Pages

Tampilkan postingan dengan label Situs Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situs Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2016

Situs Peninggalan Nglambangan Madiun

Info wisata online Situs Peninggalan Nglambangan Madiun. Salah satu peninggalan kerajaan majapahit yang berada di Desa Nglambangan Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. Sebagai benda peninggalan sejarah atau purbakala lokasi ini sering dipergunakan warga sekitar untuk upacara ritual pada saat bulan Suro. Peninggalan sejarah antara lain Pura Lambangsari, Pesiraman serta tempat keramat rumah eyang Kromodiwiryo, Watu Dakon yang dulu digunakan untuk menyimpan pusaka, punden lambing kuning, Lumbung selayur, Sumur kuno dan sendang jambangan.




Pintu Gapuro Punden Lambang Kuning Nglambangan Madiun


Watu Dakon Nglambangan Madiun

Keterangan :
Obyek wisata : Situs Peninggalan Nglambangan Madiun
Lokasi : Desa Nglambangan Kec.Wungu Kab. Madiun, Jawa Timur.
Jarak tempuh : 8 Km dari alun-alun kota
Harga tiket : - / orang

Info wisata :
- Peninggalan purbakala peninggalan kerajaan majapahit
- Terdapat pendapa dalam punden lambang kuning
- Terdapat benda-benda purbakala
- Watu dakon yang konon dulunya digunakan untuk menyimpan pusaka
- Watu lumpang
- Dll

Transportasi :
- Mobil dan motor dapat mencapai lokasi.

Arkeolog Teliti Situs Ngurawan Madiun, Ini Kesimpulannya


Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian awal di situs Ngurawan, Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (16/3/2016). 
         Arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur melakukan penelitian di Situs Ngurawan yang berada di Dusun Ngurawan Desa Dolopo Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Hal itu menyusul temuan susunan batu bata berbentuk fondasi bangunan di wilayah setempat. Salah satu anggota dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Lianto mengatakan setelah melihat, ia menyimpulkan fondasi bangunan yang ditemukan warga di situs tersebut merupakan bangunan yang didirikan secara bertahap dari abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi.
“Ini diperkirakan mulai dibangun dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Majapahit, bahkan hingga masa awal masuknya Islam,” ujar Sugeng kepada wartawan, Kamis (17/3/2016), di Madiun.
Dengan demikian, dapat dipastikan situs tersebut tetap hidup atau eksis meski telah berganti masa peradaban. Hal itulah yang membuat Situs Ngurawan sangat istimewa di mata para arkeolog.
Sebab, biasanya situs lain tidak memiliki masa kehidupan yang lama seperti yang terlihat di Situs Ngurawan. Ia menjelaskan perkiraan masa kehidupan situs yang berlangsung dari abad ke-8 hingga ke-16 tersebut diketahui berdasarkan karakter fondasi bangunan yang ditemukan tersebut.
Ia menambahkan terlihat jelas bangunan itu tidak dibangun pada waktu yang sama. Hal itu terlihat dari struktur utama batu bata yang tidak mengikat.
“Susunan batu bata tersebut seolah ditempelkan begitu saja. Dengan demikian, salah satu dari fondasi bangunan tersebut ada yang dibangun menyusul,” papar dia.
Indikasi lain yang memperkuat dugaan situs itu tidak dibangun pada masa beradaban yang sama adalah ditemukannya sejumlah pecahan tembikar.
Sebagian di antaranya memiliki motif dan bahan seperti yang ditemukan di Situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sisi lain, ada keramik yang mirip buatan Tiongkok.
Sugeng menjelaskan fondasi bangunan yang ditemukan tersebut berada di sekitar kedalaman 2 meter dengan luas 3 meter. Fondasi memiliki empat ruang, ada bagian ruangan yang menghadap ke barat, ke selatan, dan pembatas ruangan.
Atas temuan tersebut, pihaknya menyimpulkan perlu dilakukan penelitian lebih mendalam. Adapun hasil penelitian dan identifikasi awal tersebut akan ia kirimkan ke Balai Arkeologi Yogyakarta.
Kepala Unit Kelompok Kerja Pengamanan dan Penyelamatan, BPCB Trowulan, Jamiat, mengatakan hasil penelitian kali ini akan disusun guna bahan rekomendasi untuk penelitian yang lebih detail lagi. “Di antaranya dengan melibatkan tim ahli lainnya. Seperti arkeolog, geolog, bahkan arkeobotani,” tutur dia.
Ke depan, pemerintah juga akan mengangkat juru pelihara dari keluarga pemilik rumah tempat ditemukannya bangunan fondasi tersebut. Hal itu untuk menjaga benda cagar budaya tersebut.
“Juru pelihara tersebut nantinya akan digaji. Itu merupakan salah satu bentuk kompensasi kepada masyarakat yang terdampak,” ucap Jamiat.
Seperti diketahui, Gatot Suhanto, warga Dusun Ngurawan, Desa Dolopo, sebelumnya telah menemukan susunan batu bata berbentuk pondasi kuno di halaman rumah miliknya.
Ia juga menemukan patung yang diduga kuat peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit. Temuan-temuan tersebut langsung dilaporkan ke perangkat desa dan diamankan.

Makam & Masjid Kuno Taman

Masjid Kuno Taman
Masjid Kuno Taman Madiun.JPG Masjid Kuno Taman
Letak Jalan Asahan Taman, Madiun,Madiun Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Pembukaan tanah 1754
Spesifikasi

Sejarah

Masjid ini dibangun oleh Kiai Ageng Misbach atau Kiai Donopuro tahun 1754. Masjid yang semula bernama Masjid Donopuro ini didirikan di tanah perdikan (daerah bebas pajak) Kerajaan Mataram. Wilayah ini diberikan kepada Kanjeng Pangeran Rangga Prawirodirjo I yang saat itu menjabat bupati wedana timur (Manca Negari Timur), Kerajaan Mataram di sebelah timur Gunung Lawu. Selanjutnya, tanah perdikan itu diserahkan kepada Kanjeng Raden Ngabehi Kiai Ageng Misbach yang saat itu menjadi penasihat Kanjeng Pengeran Rangga Prawirodirjo I. Melalui masjid ini, syiar agama Islam di wilayah Karisedenan Madiun terjadi. Setelah masjid kuna yang dikelilingi makam para mantan bupati Madiun ini masuk dalam daftar peninggalan cagar budaya tahun 1981, maka namanya pun diganti menjadi Masjid Besar Kuna Madiun.

Arsitektur

Masjid yang bangunan utamanya terbuat dari kayu jati dengan ukuran cukup besar. Bangunan ini beratap tajug dengan tiga pintu masuk utama. Sampai saat ini masjid kuno tersebut tidak pernah direnovasi, kecuali hanya penambahan kanopi jika jemaah membeludak. Di komplek masjid ini terdapat makam para mantan bupati Madiun, mulai dari Kanjeng Pangeran Rangga Prawirodirjo I dan penasihatnya Kiai Ageng Misbach, hingga sejumlah bupati Madiun penerusnya.

Tradisi

Dahulu di masjid ini dilaksanakan sejumlah tradisi yang menjadi sarana syiar agama. Tradisi tersebut antara lain perayaan 1 Muharam yang diwarnai dengan pembacaan Al Qur’an serta sajian makanan jenang sengkala, nasi liwet, sayur bening, dan lauk-pauk tradisional seperti tahu dan tempe. Sayur bening memiliki arti kebeningan jiwa. Sedangkan nasi liwet berarti kebeningan atau kejernihan jiwa itu diharapkan dapat mengental di hati. Jenang sengkala memiliki arti adanya harapan agar dijauhkan dari musibah. Lauk tahu tempe mewakili makanan khas yang digemari rakyat kebanyakan.
Selain menyajikan aneka makanan tersebut bagi jemaah dan warga sekitar, masjid juga menggelar seni gembrung, berupa senandung shalawat yang diiringi alat musik sejenis jidor dan lesung (alat untuk menumbuk padi). Namun sekarang seni itu sudah hampir musnah dan tidak pernah diadakan lagi. Yang masih tersisa adalah Grebeg Bucengan (tumpengan) saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Monumen Kresek

Monumen Kresek
Monumen-kresek.jpg
Dibentuk 10 Juni 1991
Negara  Indonesia
Situs web www.madiunkab.go.id

           Monumen Kresek, adalah monumen bersejarah yang merupakan peninggalan dan sebagai saksi atas Peristiwa Madiun. Lokasi peninggalan sejarah dengan luas 2 hektar ini, berada 8 km ke arah timur dari kota Madiun, tepatnya berada di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. dan terdiri dari monumen dan relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Adapun fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendopo tempat istirahat, taman tanaman langka dan dilengkapi pula areal parkir. Monumen ini diresmikan pada tanggal 10 Juni 1991 oleh Gubernur Jawa Timur, Bapak Soelarso.
          Didekat monumen ini juga terdapat prasasti batu yang mengukir nama nama prajurit TNI dan pamong desa yang gugur dalam pertempuran melawan PKI di desa kresek maupun karena dibantai oleh PKI. Kolonel Inf Marhadi adalah prajurit TNI berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran desa Kresek, namanya lalu diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Madiun dan didirikan pula patungnya di alun alun kota Madiun sebagai bentuk penghormatan. menurut warga setempat area monumen kresek dahulu adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian, warga sekitar dikurung di dalam rumah tersebut lalu rumah tersebut tersebut dibakar bersama warga yang ada di dalamnya. Di sebelah utara monumen kresek terdapat monumen kecil yang terbuat dari batu kali yang mengukir nama-nama prajurit TNI dan para pamong desa yang dibantai oleh PKI.